Arti Sholat

“Sholat itu mencegah kita menjahati diri sendiri dan orang lain,”

Sepenggal nasihat pada waktu sholat dhuhur di Masjd Salman begitu mengena.

Itulah sebenarnya hakikat ‘fahsyai wal munkar‘, berbuat buruk kepada diri sendiri dan kepada orang lain,” lanjut bapak calon imam. Suara dalam kepalaku berkata, “Ahaaa, rupanya bukan sekedar mencegah dari perbuatan keji dan munkar ya! Rupanya artinya lebih dalam! Lha terus dulu itu siapa yang ngajarin kek gitu?”

‘Keji dan munkar.’ Pilihan kata yang nampaknya berlebihan. Keji seakan sadis. Munkar serasa munafik dan penuh kepalsuan. Kata-kata jahat yang berat dan tak terjangkau. Padahal makna ‘fahsyai wal munkar’ sendiri sebenarnya jauh lebih sederhana dan dekat dengan keseharian.

Dekat? Ya, dekat. Berbuat buruk kepada diri sendiri banyak contohnya. Sebut saja, ketika kita memilih untuk menunda-nunda pekerjaan, padahal dengan menunda suatu pekerjaan, pekerjaan lain kita pun ikut tertunda. Atau ketika kita memilih untuk melakukan sistem kebut semalam ketimbang belajar (atau mengerjakan) rutin setiap malam. Atau ketika kita memilih untuk menyantap fast food ketimbang lotek dan gado-gado. Atau ketika kita memilih untuk meneruskan tidur ketimbang lari pagi. Hal-hal sederhana yang dapat merugikan diri sendiri.

Berbuat buruk kepada orang lain? Tidak perlu melukai, menabrak, ataupun membunuh untuk itu. Cukup dengan, misalnya, melalaikan amanah dan kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepada kita. Hal-hal semacam inilah yang coba dicegah dengan sholat.

Siang itu, pada ceramah singkat sebelum sholat dhuhur, aku semakin menghargai sholat. “Ooooh, indah ya rupanya makna sholat itu. Coba aku tau dari dulu,” terselip seberkas penyesalan dalam pikirku.

Ayo sholat, demi kebaikan diri kita dan orang lain!

Tinggalkan komentar