Love Me Not

I don’t want to be loved because of my eyes. They will wear out or get teary.
Then you won’t love me anymore.

I don’t want to be loved because of my smile. My lips won’t all the time make that wonderful curves. Sometimes it will pout or shout.
Then you won’t love me anymore.

I don’t want to be loved because of my critical thinking. One day I may be tired and just node to majority.
Then you wills stop loving me.

I don’t want to be loved because of my brain. Someday I may get dementia and stop thinking.
Then you will stop loving me.

I don’t want you to love me because of my divine religion, for that I have my down time.
Then you will leave me and not love me.

I want you to love me because you already ask Allah if we’re allowed to get together. When we based our love on Allah, we love each other and stand the test of time.


I feel a bit stupid to post this thing. Damn. Well, never mind, just so you know.

Untold Story: Compromise

Mom : What does he do for living?

Girl : He is a freelance journalist, for now.

Mom : Well, it means you need to find a permanent job.

Few days later, the boy stunned, “She didn’t write me off the candidates list?”

Hahaha, boy, finding the one is not about rejecting someone who doesn’t meet the criteria of an ideal spouse, but how to compromise those (what you called) weak points so that we can be strong and settled together.. especially, if that someone is a boy you truly care about.

Sejahtera dan Rasional

— stok lama yang selalu update

Bandung. 30.07.2009 – 1.12 pm

Beberapa hari ini tajuk rencana Kompas membahas sikap permisif masyarakat Indonesia yang menyuburkan bibit teroris di negara ini. Katanya, salah satu alasan mengapa masyarakat tidak mengacuhkan lingkungan sekitar dan bersikap ‘boleh boleh saja’ adalah karena kesejahteraan yang masih rendah. Tingkat kesejahteraan yang rendah ini membuat masyarakat tidak bersikap rasional dalam bertindak maupun menilai peristiwa.

Jadi, ada keterkaitan erat antara hidup sejahtera dan berpikir rasional. Awalnya aku heran, namun akhirnya aku sendiri tidak menyangkal hal ini karena pemikiran-pemikiran ini sempat merasuk juga dalam pikirku. Coba tengok, selama ini aku bisa tenang membaca koran, menonton berita, membeli buku, membaca buku, menjelajah internet, dan belajar – yah, apapun untuk menambah pengetahuan – karena ada kepastian uang bulanan yang mencukupi dari orang tuaku (anggap saja gaji). Hidup jadi tenang, ibadah jadi nyaman, banyak yang bisa disyukuri, dan diri yang bisa dikembangkan.

Nah, perasaan itu mulai luntur sekarang. Keinginan untuk bekerja (ataupun magang) dan mendapatkan pemasukan menjadi tak terbendung. Kebutuhan untuk mandiri dan survive tumbuh. Di saat seperti ini, yang kupikirkan hanyalah cari magangan, cepat lulus, cepat bekerja, dan memperoleh gaji yang memadai. Bekerja dimanapun tak jadi masalah, bank, tv, konsultan, pu, bappenas, pemkot, dsb. Yang penting aku bisa mendapat kepastian pemasukan memadai, mandiri, dan dapat menolong orang lain. Hal-hal seperti pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan terpinggirkan (misalnya, mencari beasiswa S2). My God! Aku kaget juga bagaimana aku bisa berpikir sestandar dan sedatar itu. Rupanya kepastian dalam keuangan itu penting. *baru merasa memasuki dunia orang dewasa* Kata orang, duit memang bukan segalanya tapi tanpa uang kita tak bisa apa-apa. Ugh. Hate it but it’s undeniable.

Yah, bagaimanapun rejeki kita sudah dijamin dan ditentukan oleh Allah. Sekarang tinggal usaha kita untuk menjemput rezeki itu (ya sebagaimana kita berusaha menjemput jodoh). Semoga Allah memudahkanku dalam meraih rezeki dan jodoh itu. Aku percaya apa yang diberikan Allah adalah yang terbaik buat kita. Tinggal usaha dan doa kita aja.

Allah, jangan serahkan penjagaan dan pengurusan diri ini kepada diri hamba. Karena tanpa-Mu aku bukanlah apa-apa, hanya manusia yang penuh khilaf, dzolim, dan munafik. Jika suatu saat aku bersyukur, bertobat, dan melakukan kebaikan, sungguh itu bukan sekedar diriku, sungguh tak ada yang patut aku sombongkan. Karena kebaikan itu pun terjadi atas bantuanMu, doronganMu, kehendakMu, dan ridhoMu..

Harga Diri & Kepentingan

Kepentingan siapa yang abadi? Harga diri siapa yang harus dipertahankan?

Hari selasa kemarin koran-koran ramai membahas arah koalisi Golkar. Apakah akan ke Blok M (Megawati) ataukah Blok S (SBY). Sampai saat inipun, sepanjang pemberitaan di koran, Golkar belum menentukan sikap. Dengan perolehan suara terbesar ke-3 dan track record sebagai partai pemenang pemilu 2004 dan partai tertua, tak heran jika Golkar disorot.

Baca selebihnya »

How to Teach Writing Class in Course (2)

This is the second day. it’s time to talk more specific about writing in english.

  1. Greet everyone in class (plus teacher do the absent). Do NOT let the students fill the absent by themselves! C’mon, this is not a lecture class!
  2. Review about their writings previous meeting. Hand them their works.
  3. Ask what writing experience they have.
  4. Ask their opinion about what writing is.
  5. Give them the theories.. brief introduction about writing. bla bla blaaa… Lalalaaa,, the curriculum depends on the ability of the students, not only following what is given by ur upper admission.
  6. Before the class is ended, remind the students that writing has a strong bond with reading. The more u read, the better u write. That’s why.. Give them a weekly task to read and review one article each week. Any articles depends on their interest. The review contains title, topic, writer, the goals of the articles, a short sinopsys, organization of the sentences & paragraph, the vocabularies and dictions student learns from it, etc.

~ Then each week spare some 30 minutes to discuss 2 – 3 articles that students bring.

~ Alternative task : blogging in english

Well, after all, the most important things are :

Just keep the class interactive and active so that the students won’t get bored.

Be prepared, don’t let urself looked ridiculous in front of ur students. It’s a sin and the students won’t respect u anymore.

Menuju Pemakmuran Perdesaan

—- The better one. We were asked to write an essay and we did it well. Otsukaresamadeshita, gals! πŸ˜€

credits by Khairunnisa, Syifaa Tresnaningrum, & me (still the same formation, hehee)

Dibalik segala romantisme yang ditawarkan perdesaan, tersimpan banyak persoalan yang meliputinya. Persoalan-persoalan tersebut kemudian terakumulasi dan menimbulkan dua permasalahan utama, yaitu kemiskinan dan ketidakmerataan. Penting bagi perencana untuk memahami persoalan sebelum bisa menelurkan solusi yang tepat. Karena itu, esai ini akan diawali dengan memberi gambaran mengenai beberapa persoalan yang ada di Indonesia, lalu beranjak membahas mengapa persoalan-persoalan tersebut timbul. Setelah mendapat gambaran mengenai persoalan perdesaan, kita akan bergeser untuk mengetahui apa saja terobosan yang telah ditempuh untuk menyelesaikan persoalan perdesaan tersebut. Kemudian esai akan diakhiri dengan memberikan review atas solusi-solusi yang telah dijalankan.

Baca selebihnya »

Membangun Desa, Membangun Indonesia

— this one supposed to be a critical review, but we wrote it like an essay. Hahahahaa, this results bad grades. But it’s still worth reading since the idea is good. *hahaha, pembenaran*

credits by Khairunnisa, Syifaa Tresnaningrum, & me.

Desa bukanlah istilah yang tepat untuk menggambarkan kompleksitas perencanaan wilayah. Desa hanyalah suatu unit kecil dalam perdesaan. Namun unit kecil inilah yang menyusun Indonesia menjadi sebuah negara yang begini luas & besar. Dan memang tak bisa dipungkiri, desa yang kita miliki lebih banyak ketimbang kota. Atas dasar inilah desa menjadi suatu yang tak bisa dikesampingkan dalam perencanaan & pengembangan regional bahkan nasional.

Baca selebihnya »

How to Teach Writing Class (in course)

The ideal size of english class is around 10 – 15 persons. More than those numbers, it’s pretty difficult to make sure that each person understand the materials well.Β teaching

First impression is important, eventhough it doesn’t show everything

First day is introduction time and it’s a big chance for the teacher to make a good impression. On the first day, the teacher must :

  1. be ready in the class before the students come and welcome the students.
  2. introduce him/herself ; share a bit of ur thought about english & ur experience in learning english.
  3. ask students to introduce themselves ; give them a little comment or story so that they feel appreciated & understood. *semoga ga lebay dh gw*
  4. ask them one by one why they choose writing class
  5. ask them what they expect to get from this class ; e.g A wants to be able to write an essay well, B wants to be able to write a thesis, C wants to have a better understanding in arranging paragraph.
  6. what problems they usually encounter when writing in english; e.g lack of vocabulary, difficulty in developing the topic, used to write in indonesia, nervous. don’t forget to give a conclusion/review after each question, then keep those review in mind (or u can note them)
  7. Few minutes before the class is dismissed, ask them to write their opinions or experiences in learning english.
  8. While they write, teacher must stay in the class and take the time to recognize & memorize names and few descriptions of the students. Teacher is allowed to have a little chit chat.

Other things to be Β concern :
~ Don’t forget to read those passages that students wrote. Still, don’t forget to take some notes to conclude & review. Make a few comments in each of their writing so that they feel their works are not in vain.

~ Oia! English teacher in courses MUST use english. Do not speak Indonesian (few words are fine, -remember, ‘words’ not ‘sentences’). Believe me it is silly and sinful to do that in english course class. Teaching course is obviously different from teaching highschool and so on.

~ Put urself among the students. Have the students sit in a circle, the teacher is in the center. Do NOT sit too much. Teacher’s gestures must be flexible.

~ Always open up urself to questions.

—– based on experience. Next, the second-day-teaching tips will come soon!

Urgent!

Oh my,,

I’ve gotta start writing again..

Gotta start immediately..before I become a….plagiator

*that’s not the right word, but I can’t find any other in my mind*

Soon, I’ll be back!

Merencana dengan Hati (1)

LEMBUR!!

NOOO.. Lembur again di Studio Cilaki45. Tempat awa KP. ha3. Jadi teringat kata-kata “temanku”, “Gila, lo baru kP aja udah ngelembur gitu!” πŸ˜€ Konyol.

Eitss.. tapi bukan itu inti tulisanku malam ini!

Intro, di sini aku berperan sebagai mahasiswa KP, membantu proyek Bantek RDTR Kawasan Pusat Kota Sorong, Provinsi Papua barat. Dan senin besok adalah deadline pengumpulan Laporan Antara…

Ketika tadi sedang menganalisis, dalam kondisi dikejar deadline, aku hanya menulis sekenaku. Segala macam mantra yang biasa aku rapal di buku faksis dan rencana studio, itu yang aku tulis. Tiba-tiba terbesit…

Hei! Buku Laporan Antara ini terasa kosong! aku asal ngemeng. Kok merencana ga pake hati banget.. Rasanya ga bicara hati ke hati dengan perwakilan masyarakat di sana tentang gimana kondisi Sorong sesungguhnya, bukan sekedar lewat angka-angka BPS.. tentang gimana sebenarnya mereka menginginkan Sorong mereka ini berkembang..

Ha3. entah aku yang terlalu pake perasaan atw apa..

yah, analisis kita lanjutkan besok,

awa mw plg dulu k kosan tercinta, doakan saya selamat πŸ˜€