Kacamata

Salman sedang dalam kondisi damai. Aku mengitarkan pandanganku dan jreeng, aku melihat Kang Salim dan Kang Sufyan. Aku sapa mereka dengan mata berbinar, maklum lama tidak bertemu. Mereka balas menyapa dengan riang, tapi atas alasan yang berbeda.

Kang Salim menghampiri sambil mensortir surat-surat di tangannya. Lalu berkata, “Plano deket sama SR kan.. Hhm, ke TG juga sekalian ya!”
(Yang benar saja, Plano di gerbang depan dan TG di gerbang belakang. Jelas tidak dekat.)

“He?” hanya itu reaksi pertamaku.

Sedetik berpikir, aku kemudian sadar, ini untuk urusan seminar cyber media yang akan diadakan jumat besok. Merasa direpotkan, aku mengajukan berbagai alasan dan argumen. Mengeles.

Kang Sufyan menyela, “Ah, Danar ini, kacamatanya kacamata capek sih. Pake kacamata ladang amal dong!”

Aku cuma mengerutkan kening, berpikir, “Oh, maksudnya sudut pandang.” Lalu aku semakin berkerut, “Benarkah selama ini aku berpikir bahwa amanah itu merepotkan?”

Still dealing with the thought, pada akhirnya aku menerima surat-surat itu dan menyampaikannya ke TU SR, DP, dan TG.

Tetapi ceplosan Kang Sufyan itu mengena betul. Nampaknya selama ini aku selalu memandang amanah sebagai sesuatu yang merepotkan dan menjauhinya. Padahal, jika aku menengok ke belakang, aku pada jaman tingkat 2, pas di Gamais, aku selalu bersemangat menerima kerjaan. ‘Kemana semua semangat ituuu?”

Mungkin jaman dulu Gamais berhasil mencuci otakku sehingga yang ada di pikiranku hanyalah berbuat yang terbaik dan terbanyak agar diperhatikan dan disayang Allah. Bahasa sononya, fastabihulkhoirot. Well, memang benar, prestasiku meningkat di kala itu. Semangatku tidak habis-habis. Ketika tugas kuliah bertumpuk, aku tetap bersemangat untuk berkegiatan. Bergadang (benar-benar tidak tidur) demi deadline lay-out. Sibuk, bahkan mengeluh pun tidak sempat. Haha. I was full of action back then. Now, I am full of words yet zero action. Waks!

Lagipula, saat itu, ada hm, seseorang yang menyemangatiku dan menjadikan aku semangatnya. It meant a lot. Hahahaha. Aih, my precious past.

Yah. Kang Sufyan, terima kasih banyak atas kata-kata yang menohok. Aku memang sebaiknya mengubah sudut pandang.

Hwee, akaang, terima kasiih. m(_)m

~After deadline 1. When I say ‘after’ it doesn’t mean I’ve finished my task. It’s just that I miss the deadline :p

Alergi

“Gatel-gatel nih habis makan udang & cumi!” keluh temanku

“Aku alergi ayam,” temanku yang lain mengaku dengan tenang.

Hm, aku bersyukur aku bisa memakan segala yang terhidang (selama halal dan tidak beracun). Padahal ketika aku kecil, aku punya banyak alergi. Aku ingat bagaimana aku dan orang tuaku bolak-balik ke dokter untuk mengurus alergiku. Alergenku pada masa itu antara lain, susu sapi, ayam, telur ayam, dan ikan laut.

Aku masih ingat bagaimana orang tuaku berdebat untuk mengusir alergiku, “Kalo ga diobatin sekarang, ntar makin parah, nanti anak ini ga bisa makan macem-macem pas udah gede!” (Alhamdulillah, aku diberi umur dan bisa mencicipi beragam makanan). Alhasil hampir tiap minggu aku ke dokter, merasakan tetesan-tetesan dingin di lengan untuk uji alergi. Tak lupa puasa makanan yang ‘membahayakan’ dan menegak obat.

Keluhan lain, bengek ikut ambil bagian. Ada lagi, gigiku nylenthang kesana kemari dan perlu dibenahi dengan behel. Nampaknya aku begitu menyusahkan ketika kecil.

Wew. Subhanallah ya. Aku tidak terbayang berapa materi dan tenaga yang sudah dicurahkan orang tuaku untuk merawatku, ketika masih kecil hingga sampai sebesar ini. Hwaa. Allah, terima kasih telah memberiku orang tua yang begitu pengertian dan bertanggung jawab. Aaaa, jadi kangen.

~ untold story 1. harus gitu juga kalo ntar jadi ortu!