Satu

Dulu, temanku pernah bertanya dalam suatu forum kecil kepada si teteh,

Teh, saya pernah tau, bahwa katanya islam itu akan terpecah menjadi 72 golongan dan hanya satu golongan yang akan masuk surga. Kok ngeri, Teh.

Pikirku saat itu, “Hah. masa’ Allah tega sih. Bukannya perbedaan interpretasi tidak mungkin terhindarkan?”

Namun jawaban si teteh sama sekali tidak memuaskan buat saya, “Makanya Dek, emang harus hati-hati pilih jamaah.”

Jawaban yang menurutku sangat subjektif dan mengandung maksud serta arahan tertentu. Jawaban yang malah membuat saya enggan menjebakkan diri dalam satu nama golongan.

4 tahun berlalu dari masa itu. Saya sedang santai membuka Quran kenang-kenangan umroh. Lalu saya temukan,

It has been narated by Abu Hurairah RA, in the hadits book (At-Tirmidhi, Ibn Majah, and Abu Dawud) that the Prophet Muhammad SAW said;

The Jews and Christians were divided into 71 or 72 religious sects and this nation will be divided into 73 religious sects – all in Hell, except one, and that one is the one on which I and my companions are today. [i.e following the Qur’an and the Prophet’s Sunnah]

dalam penjelasan petikan ayat QS. Ali Imran 3: 103;

And hold fast, all of you together, to the Rope of Allah (i.e this Quran), and be not divided among yourselves.

Rupanya teman saya itu salah mengutip. Yang terpecah itu bukan islam, melainkan yahudi dan kriten. Islam tetap teguh terhitung sebagai satu golongan. one religious sect.

Men, satu. Satu Islam. Satu Iman.

Lalu, mengapa jadi terpecah-pecah begini. Tiap golongan tidak menerima golongan yang lain. Tiap golongan merasa benar sendiri.

Mengapa tidak cukup berpikiran, bahwa selama patuh pada Quran dan Sunnah, mereka dan kita adalah sesama muslim. ck.

Penting?

Niat awalnya, beres-beres kamar. Namun kemudian saya tertegun melihat tumpukan kertas dan buku, bingung mau saya pindahkan kemana semua itu. Lalu mata saya tertuju pada buku Asma Nadia yang saya letakkan khusus di atas tempat tidur di samping bantal.

Buku yang saya peroleh dari Agunk 4 tahun lalu. Buku yang saat itu terasa terlalu dewasa bagi saya untuk membacanya. Saya penasaran, bagaimana rasanya jika saya yang sekarang membaca buku tersebut. Akhirnya, saya putuskan untuk duduk dan membaca.

“Saya tidak pernah mencintainya. Saat itu saya ingin ikhlas ketika menikah. Karenanya… saya memutuskan tidak melihat wajah istri ketika kami berproses. Saya baru melihatnya setelah di pelaminan. Betapa kagetnya saya…karena perempuan itu sama sekali tidak cantik!”

– Menikah Tanpa Memandang. Catatan Hati Seorang Istri

Mba Asma Nadia terdengar heran dalam tulisannya. Meskipun setulusnya dia menghormati dan tidak menghakimi sikap temannya itu. Dan tawa saya pun meledak ketika di akhir cerita Mba Asma menulis,

Meski jika dibenarkan, ingin sekali saya meninjunya.

Hahaha. Mengesalkan memang. Tapi kadang, mau bagaimana lagi, memang laki-laki itu makhluk visual. Wajar jika mereka memasukkan penampilan sebagai salah satu syarat tumbuhnya cinta.

Namun untungnya, sang teman ini bertanggung jawab terhadap pilihannya dan keluarganya. Fiuh. Yang mengingatkan saya kepada kalimat bijak seorang tokoh islam. (Yaa, saya lupa siapa. maaf tidak akurat. untungnya ini bukan skripsi)

Menikahlah dengan lelaki sholeh. Jika dia mencintaimu, dia akan membahagiakanmu. Jika dia tidak mencintaimu, dia tidak akan menyakitimu

Saya akhirnya mengerti realisasi kalimat itu ketika menyandingkannya dengan kisah Mba Asma di atas.

Lalu yang menyedihkan adalah bagaimana cara membangun keluarga tanpa cinta.. Bagaimana mengajarkan cinta kepada anak jika rupanya orang tua mereka tidak saling mencinta..

Duh, ikhwan, tidak perlulah sok ikhlas. Sadari diri bahwa kalian membutuhkan eye-candy or apple of your eyes untuk hidup dan mencinta.

Duhai, Maha Pembolak-balik Hati, selipkan dan tumbuhkan cinta di hati para pasangan dan keluarga yang telah terlanjur berada di situasi semacam ini.. agar mereka bisa mencintai satu sama lain dan mengajarkan sebentuk cinta-Mu kepada anak-anak mereka.

Dan.. Duh, Maha Pemilik Cinta, hindarkanlah kami perempuan-perempuan lajang ini dari pernikahan yang tanpa cinta..

 

— dan saya masih belum beranjak untuk kembali beres-beres. wah.

Setelah Itu

Selama masa TA, menulis adalah sesuatu yang mengerikan buatku. Setiap menulis, rasa takut dan ragu selalu saja menyertai. Bahkan, tulisan TA-ku tidak menunjukkan setitik pun bahwa saya memiliki kegemaran menulis. Oh.

Yah, setelah masa itu berakhir, kembali nge-blog adalah sebuah pembebasan diri. Fiuh. Sekaligus untuk memenuhi permintaan fans setiaku. *bweh*

So, as my coming back, saya ingin berbagi cerita.

Proses TA sejak Juni 2011 adalah sebuah drama, there was climax and twist and many things. Haha. Beneran deh. Dan ini adalah pelajaran terdalam dari drama tersebut. Hikmah yang semoga dapat saya pegang dan laksanakan selama sisa hidup.

This one is for real.

Yeah, selama ini saya punya kecenderungan untuk melarikan diri ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Meskipun alasan atas itu adalah diri saya sendiri. Saya melarikan diri. Dan berharap bahwa things will be better tomorrow. But you know, there is no tomorrow. There’s only today. This ‘today’ determines your tomorrow. Kalo kata Agunk, "Jangan berharap kondisi akan lebih baik, kitalah yang harus lebih kuat."

Dan di masa TA ini, terutama di kondisi mepet penuh tekanan dan deadline ini, saya belajar bahwa tidak seharusnya saya lari. Sepahit apapun. Maju. Jelaskan. Komunikasikan. Pull through. Kuatkan seluruh sel, pikiran, dan mood untuk tetap berjuang memenuhi janji. Do not compromise. Jikalau hasilnya buruk, yang terpenting adalah selama proses, saya sudah berjuang yang terbaik.

Just face it. Life is much easier if I don’t runaway.

There will always be a way to make your dreams come true.

Jadi, yah, siapapun yang membaca tulisan ini, and one day find me repeating the same mistake,, please stab me in the front. Tell me off and get me back on my feet. I’ll be so thankful for that.

Selasa, 03.11.2009

secercah keberanian untuk berbagi mimpi dan harapan

Suara tangis meraung-raung layaknya sirine yang tak merdu memecah keheningan pagi, mengundang tanda tanya orang sekosan, mengganggu waktu baca koranku. Telusur punya telusur, suara tangisan itu berasal dari putra pemilik kosanku, code name Anjas. Rupanya, ayahnya meninggal di Cepu pagi ini.

Untuk Yang Akan Pergi

Kematian selalu menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka yang masih diberi berkah kehidupan. Suatu saat nanti di suatu tempat, kita yang masih hidup ini pasti akan mati. Sadarkah kita mengapa Allah tidak pernah membuka misteri masa depan kita kecuali satu kepastian bahwa kita pasti mati? Agar kita mempersiapkan diri. Agar kita berhati-hati bahwa orientasi hidup tak hanya untuk dunia, melainkan untuk kehidupan setelah mati. Allah tidak membocorkan rahasia kapan dan dimana kita akan mati tetapi Allah memberi kita kesempatan untuk memilih, bagaimana kita akan mati. Husnul khotimah? Su’ul khotimah? Itu pilihan kita, dengan ridho Allah.

Dikala aku dimandikan
Aku menyadari
Betapa pentingnya memelihara kesehatan jasmani

Dikala aku dibungkus kain kafan
Aku menyadari
Betapa pentingnya memelihara kehormatan diri

Dikala aku disholatkan
Aku menyadari
Betapa pentingnya memelihara pengabdian diri

Dikala aku diantarkan kepemakaman
Aku menyadari
Betapa pentingnya memelihara silaturahmi dan persahabatan

Dikala aku dikuburkan
Aku menyadari
Betapa pentingnya memelihara rasa tanggung jawab

Dikala aku ditangisi sanak dan famili
Aku menyadari
Betapa pentingnya menangisi diri

Dikala aku ditinggal sendiri
Aku menyadari
Betapa pentingnya mendekatkan diri pada Ilahi

Dikala aku terkujur dalam kegelapan
Aku menyadari
Betapa pentingnya mencari cahaya ilmu

Bagi Yang Ditinggalkan

Kita mungkin ingat bahwa kita akan mati dan jangan lupakan pula bahwa orang-orang dekat kita – orang tua, sahabat, saudara, dst – juga akan mati, bisa jadi, sebelum kita. Menghadapi kepergian orang yang kita sayangi memang bukan perkara mudah, pasti ada duka terselip di dada. Tapi bagaimana kita menyikapi duka dan mempersiapkan diri menghadapi duka itu?

Sadarilah bahwa siapapun itu yang kita sayangi, adalah milik Allah. Jikalaupun kita mencintai dan dicintai seseorang, sadarilah bahwa Allah lah yang Maha Pencinta dan Dicintai. Jika dia pergi, masih ada Allah yang bisa kita cintai, yang mencintai hamba-Nya, yang kepadanya kita masih bisa menumpahkan segala keluh bahkan harapan.

Mandiri. Ini hal terpenting untuk selamat hidup di dunia. Sering kali kita menangisi seseorang karena kita amat terikat dengannya, atau bahkan amat tergantung kepadanya. Ini harus dikikis.

Kita awalnya sendiri dan akhirnya sendiri. Mereka yang berhasil adalah mereka yang meletakkan dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. ~Pramoedya Ananta Tour

Meskipun di awal dan di akhir kita pasti sendirian, di tengah-tengah kita masih bisa bersama dan bergerombol. Mandiri bukan berarti memutus kehidupan dengan orang-orang sekitar. Bagaimanapun juga kita makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup.

 

– my unfinished writing. it’s been 2 years and never finished.