Esensi Cerita Anak

Hampir semua anak suka cerita dan dongeng. Hewan. Pahlawan. Kisah sehari-hari. Memantik imajinasi dan mengisi batin dengan cara yang tidak menggurui, tidak menyebalkan. Gimana caranya?

Dalam Theurapeuting Storytelling by Susan Perrow, buku dongeng andalan untuk Kay, diceritakan tentang unsur cerita:

  1. Hero yang memiliki flaw
  2. Metafora (perumpamaan) persoalan yang dihadapi
  3. Helping hands yang menolong atau mengingatkan si hero dalam menghadapi persoalannya
  4. Happy ending dimana si hero tadi berubah menjadi pribadi yang kurang baik menjadi pribadi yang lebih baik

Mendengar cerita seperti ini sangat menenangkan, bahkan bagi orang dewasa. Donald Miller dalam buku marketing hitsnya “Building a StoryBrand – Clarify Your Message so Customer Will Listen” juga mengangkat hal yang serupa. Jika ingin brand kita diingat oleh orang, kita perlu storytelling. Here is how he puts it,

  1. A character
  2. Has a problem
  3. And meets a guide
  4. Who gives them a plan
  5. And calls them to action
  6. That helps them to avoid failure
  7. And ends in success

Ini ngomongin anak kok bawa-bawa marketing siih? Well, kata Daniel H. Pink dalam “To Sell is Human”, bahkan parenting pun sebenernya kita tuh jualan, tapi bukan barang. Dalam mengasuh anak yang kita jual adalah nilai-nilai kebaikan (value). Bukan cuma orang bule, Ust. Adriano Rusfi juga berpendapat sama. Jadi yaa boleh lah bawa-bawa marketing ke sini.

Kalo ala Charlotte Mason, ada juga yang namanya Living Book. Mirip2 dengan theurapeutic stories, tapi kumerasa endingnya kadang lebih ngegantung. Niatnya untuk memancing anak memikirkan hikmah ceritanya sendiri.

Nah tipe theurapeutic story ini disuka banget sama Kay (6y). Kinda soothing, perfect for bed time. And she remembers almost all the stories I’ve told. Aiaih, jujur I’m torn. Karena muatan tauhid di cerita seperti itu adalah ENOL besar.

Jadi kucoba ubek-ubek buku cerita anak islami yang ada di rumah dan mendengarkan cerita dari sekolah Kay. Yang kutemukan adalah,,

  1. A good character
  2. Has an enemy
  3. Who he wins over with the help of Allah
  4. Resulting in increased imaan for one or both of them

Jadi nuansa good vs evil-nya itu sangat keeennnttaal. Lebih kental dari sirup gula aren atau krimer kental manis buat bikin kopi. Dan sering kali heronya digambarkan flawless, iman bulet, akhlak caem. Wah mengapa begitu ya?

Padahal kan the first fight between good and evil is in ourself, between our ruh and nafs. Nyem nyem.

Padahal good vs evil kan ga se black and white itu sebenarnya dalam hidup.

Padahal kan Rasul juga pernah ditegur Allah ketika bermuka masam.

Padahal Rasul kan juga pernah sedih dan dikuatkan Allah lewat firman-Nya, cem Al-Kautsar, Ad-Dhuha, and Al-Insyirah, dll, dll.

Padahal Nabi Musa kan juga pernah berbuat salah, takut, lalu meminta tolong kepada Allah.

Padahal Nabi Yunus juga pernah kabur dari kaumnya, get into trouble, dan bertaubat.

Padahal Umar kan dulu garang dan seyyeem sebelum kenal Islam, begitu hijrah malah jadi khalifah jaminan surga.

Padahal banyak cerita Quran yang bertema repent and change.

Wow.

Tapi kok kayaknya kurang tergali ya.

Ini yang bikin agak kepikiran.

Belum coba fabel Quran sih. Next, soon.

Tinggalkan komentar