Workshop SIFA “Bandung disaster education for children”

Numpang ng-iklan…..

What?

Acara workshop mitigasi bencana yang ditujukan untuk adik-adik yang masih duduk di bangku kelas 5-6 SD. Penyampaian dilakukan dengan drama, story-telling, kuis, menggambar, dan diskusi.

Why?

Indonesia adalah Negara yang rawan bencana. Bandung sendiri memiliki ancaman bencana mis. gempa, landslide, banjir. Dan anak-anak adalah pihak yang rawan menjadi korban bencana karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan mereka untuk mengenali dan melindungi diri dari bencana.

Who?

Pelaksana : KIDS – klub mahasiswa Kyoto University yang peduli dengan pendidikan kebencanaan bagi adik SD – & HMP

dari HMP sendiri dibutuhkan min. 12 orang untuk menjadi fasilitator/trainer

Target peserta : 120 murid kelas 5-6 SD dari 6 sekolah berbeda (60 anak per hari)

When?

Pelatihan fasilitator : Jumat, 22.08.2008

Hari-H workshop : Sabtu & Minggu, 23 & 24 Agt 2008, 8 am – 3 pm.

Where?

InsyA di RSG Plano..

image

Banyak banget ide yang berkembang untuk acara ini! Padahal aku pikir ini hanyalah acara kecil, sederhana, dan bersahaja. Ada yang usul:

  1. bikin buletin Citizen bwt adik-adik SD-nya.
  2. kerjasama ma oxfam & impb.
  3. bikin baligho bwt dipasang di  depan kampus.
  4. publikasi lewat radio kids (radio di bandung yang target pendengarnya anak kecil).
  5. bikin kenang-kenangan utk pihak SD.
  6. mengundang media utk meliput acara ini.

Wew!! Pusing awa.. Ok, aku hargai semua ide itu.. (hhmm..dihargai berapa ya?)

Ya suw, pokoknya…………… Mari sukseskan acara ini!!

Hayo, ada yg mau usul apalagi………..?

Swasta vs Pemerintah

Hhhmmm…
kerja di swasta atau di pemerintah ya??
Pertanyaan itu yang rata”menyelimuti benak para calon planners angkatan 2005. Yah, maklum, udah hampir masuk tingkat 4, udah harus siap”.
Apalagi sekarang lagi jamannya kP. Masa”buat lirik-lirik calon tempat kerja nie!

Kerja di swasta (mis.konsultan) *awa tak tertarik kerja di bank, maka tak awa bahas* :
– ga nganggur
– produktif
– menantang
– profesional
– patuh target & deadline
– ilmu lumayan berkembang
– gaji lumayan lah..
Tapi..
kadang swasta juga suka manipulasi.. *Hhhmm…*

Kerja di pemerintah (mis. dinas lalala, departemen lalala, Bappeda lalalala):
– banyak nganggurnya
– kagak produktif
– kagak menantang
– terlalu banyak kebobrokan (mis. birokrasi yang buruk, KKN *cih! benci!*)
– environment-nya keknya ga asik deh.
– gaji buta
Tapi ada yang menggiurkan dari kerja di pemerintahan, yaitu….
Kesempatan buat skul lagi!! (^o^)/
Ilmu Qta bakal lebih berkembang deh dibandingkan di swasta..

Nah, aQ sendiri lagi menikmati kP yang seru di konsultan (swasta).
Melihat kinerja swasta yang seperti itu, aQ makin ogah kerja di pemerintah..

Pas lagi ngobrol”ma temen kosanQ..
topik ini terangkat, aQ dengan mantap menyatakan keinginanQ untuk bekerja di swasta.
Lalu dia bilang,
‘Ga boleh gitu, orang”yang punya idealisme itu harusnya masuk ke pemerintahan! Perbaiki. Ga cuma menghujat. Pemerintah yang bobrok itu ibaratnya saudara kita yang lagi kena narkoba. Untuk menyembuhkannya, harus didekati & dirawat, bukan dijauhi..’
JLEBB!!
Ah….
awa malu seketika.
Weleh, iya juga ya…..
Hhhmmmm….

Ha3.
Yah, bukan maksud menilai diri terlalu tinggi.
Q sadar masih banyak banget orang yang jauh lebih huebuaat.
Emang gw sapa juga berasa kayak orang penting yang bakal nylametin negara..
Tapi..
gw punya cita-cita…………
dan selama gw bisa, gw bakal brusaha mewujudkan tuh cita-cita.

Jadi mw dimana??
Well, akhirnya aQ sampai pada simpulan:
dimana pun Qta brada, yang penting adalah niat dari diri kita sendiri & melakukan yang terbaek.
Kata orang, pekerjaan yang paling membahagiakan adalah melakukan hobi / pekerjaan yang memang disukai.

Yah, manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan.
(Well, Allah always knows the best for us, right?)

What it means to be a planner

Q baru sadar saat temenQ (jurusan Teknik Geofisika) berkata, “Wah, mempelajari bumi itu asyik ya!” sambil sumringah dalam keadaan dia sedang blajar bwt uts besok. Saat itu  langsung ketawa miris,heheeee..

Q langsung kepikir plano,”Perasaan Q blm ngrasa seru bgt mplajari tata kota..”

Trus Q tau jawabannya!
Soalnya, Plano tuh kan sebenarnya ilmu yg dikembangkan manusia, kota itu juga bukan secara alamiah dibentuk sndiri ma Allah ‘kan? Pada awalnya kota tuh kan cuma kumpulan manusia yang hidup bersama utk mptahankan diri dan seiring berkembangnya jaman bin terknologi, mereka mulai memiliki spesialisasi dan akhirnya menyebut diri sbg masyarakat kota. Karena itu, dalam kota esp struktur yg ada di kota tsb juga terdapat bnyk kesalahan. Coba lihat, mana ada sie kota tnpa tantangan a.k.a masalah. Dan teori ttg kota sndiri masih slalu berkembang dan dperbarui agar slalu sesuai dg perkembangan jaman..

Memang ya, apa yg Allah ciptakan itu pasti ga bercacat tapi apa yg dibuat oleh manusia pasti msh mngandung kkurangan..Subhanallah ya, Allah keren.

Q smpat kepikiran, Planologi alias Urban and regional Planning alias Perencanaan Wilayah dan Kota tuh merupakan ilmu dimana manusia blajar untuk mjadi ‘dewa’ atw ‘tuhan’.

Eitss,jgn heboh dulu,mksudQ gini.. Qta blajar gimana cara mnata alam(esp.SDA) dan mngatur manusia-yang akhirnya kita sebut dg perencanaan. Allah pun melakukan hal yg sama bukan? Mnata alam dan mngatur Qta, hanya Allah melakukannya dalam lingkup yang jauh lebih luas dibanding yg Qt lakukan. Ya ga, sie?

Ah,mungkin tepatnya ilmu utk mjadi khalifah Allah gitu kali ya..menjadi ‘wakil’Allah di muka bumi
Aamin. Eh,jadi inget, dulu ada teteh yg bilang gini,”blajar planologi itu fardhu kifayah lho!
Wah,subhanallah ya! Duluu Q terinspirasi bgt ma kata”itu:D>

Hhmm…

Rizal Ramli ke itb

Dr. Rizal Ramli dalam Kuliah Umum Akhir SemesterSeiring Kebangkitan Nasional,,,

Jumat (16/5) Dr. Rizal Ramli memberikan Kuliah Umum Akhir Semester dengan mengangkat tema “Percepatan Deindustrialisasi vs Strategi Industrialisasi dengan Nilai Tambah”. Kuliah Umum ini diadakan oleh STEI ITB di Aula Timur.

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Ketua Rektor Bidang Akademik, Prof Dr. Adang Surachman lalu dilanjutkan dengan pemutaran film pendek berisi profil pembicara yang bertajuk “Dr. Rizal Ramli, Sang Penerobos”. Film pendek tersebut bercerita mengenai sepak terjang Pak Rizal Ramli di pergulatan politik dan pemerintahan Indonesia.

Kuliah dan diskusi berlangsung dipandu oleh Prof.Dr. Adang Suwandi Ahmad, Dekan STEI. Dalam kuliah singkatnya Pak Rizal Ramli menekankan bahwa bangsa Indonesia harus berjuang dengan kemampuan sendiri untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia. Kita sendiri yang harus menentukan sikap dan langkah untuk maju, termasuk dalam bidang industri. Tidak seharusnya bangsa ini bergantung pada bantuan asing. “Pinjaman asing itu bukan murni untuk menyelamatkan ekonomi kita melainkan untuk menyelamatkan bank-bank asing!” tegas Pak Rizal Ramli.

Tak ketinggalan, Pak Rizal Ramli juga menyinggung permasalahan kenaikan harga BBM. Menurut Mantan Menko Perekonomian ini, ada beberapa cara lain untuk menyelamatkan anggaran negara, yaitu dengan mengurangi subsidi kapital ke bank, melakukan devaluasi atau menurunkan nilai mata uang secara sengaja untuk mempermurah harga jual barang ekspor dan menaikkan harga jual barang impor sehingga produksi dalam negeri terlindungi. “Masalahnya, selama ini Kita dicekoki bahwa presiden yang baik adalah presiden yang mampu mempertahankan atau bahkan menguatkan nilai mata uang. Padahal baik buruknya kinerja presiden seharusnya dilihat dari ketersediaan lapangan kerja dan seberapa banyak rakyat yang memperoleh pekerjaan” tambahnya. Selain dua hal itu, beliau juga menyarankan penguatan machinery industry. Jadi bukan sekadar industri pengolahan bahan baku dengan membeli mesin dari luar negeri melainkan membuat mesin sendiri untuk mendukung proses produksi.

Masih berkaitan dengan bagaimana mempercepat industrialisasi, Mantan Ketua Bulog di jaman Gus Dur ini secara tegas mengatakan bahwa pemerintah tidak boleh memiliki mental mahasiswa kos-kosan, yaitu mental berhutang dan menjual apa yang ada saat kehabisan uang. Pemerintah harus memiliki visi industrialisasi dan hal ini tidak boleh diserahkan ke mekanisme pasar. “Kita ini pasti bisa melakukan industri! Syaratnya, kita tidak boleh hanya berpikir sebagai engineer tetapi pertimbangkan juga manajemen dan pembiayaan serta tentu saja tidak boleh melupakan team work. ITB harus menjadi ujung tombak perubahan!” tandas Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia tersebut.

(versi murni belum diedit, klo yang udh diedit ya ad di web itb)

Itulah berita terbaru yang Q tulis bwt itb.ac.id. Q kasih judul “Berguru kepada Sang Penerobos”. Q uplot hari itu juga. Sebenernya Q agak menyesal ga all out pas cari berita. Knapa ga sekalian wawancara ya… damned. Entah knapa smangat bgt dh nulis tuh berita, apalagi pak rizal sempat ngbahas kenaikan BBM. Wiii..seru. Q bharap nie berita bisa bwt referensi KM untuk ngajuin sikap & rekomendasi kpd pmerintah ttg penolakan knaikan BBM Juni ntar.