Harga Diri & Kepentingan

Kepentingan siapa yang abadi? Harga diri siapa yang harus dipertahankan?

Hari selasa kemarin koran-koran ramai membahas arah koalisi Golkar. Apakah akan ke Blok M (Megawati) ataukah Blok S (SBY). Sampai saat inipun, sepanjang pemberitaan di koran, Golkar belum menentukan sikap. Dengan perolehan suara terbesar ke-3 dan track record sebagai partai pemenang pemilu 2004 dan partai tertua, tak heran jika Golkar disorot.

Sebelum lebih jauh, begini kondisi koalisi saat ini :

Blok M

Blok S

PDI-P

Demokrat

Hanura

PKS

Gerindra

PKB

PPP

Golkar

PAN

..dll..

Banyak pihak yang ikut sumbang saran dan pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama menyatakan lebih baik Golkar memilih bergabung kembali dengan SBY untuk melanjutkan pembangunan dan apa-apa yang belum beres dalam masa 5 tahun kepemimpinan. Alasan pertama ini adalah alasan yang dilontarkan rakyat lugu bin polos *Yaa, cem awak ini. Yaah, ayolaaah, apa sie yang bisa dilakukan dalam pemerintahan yang cuma 5 tahun? RTRW saja jangka waktunya 20 tahun. Coba lihat betapa timpangnya politik dan perencanaan di sini. Ck ck ck ck..* Alasan lain yang disebutkan secara lugas oleh suatu media terdengar lebih oportunis, dilihat dari sisi para menteri yang sedang menjabat atau para calon menteri yang telah diiming-imingi jabatan. Disebutnya bahwa mereka-mereka inilah yang bersuara lantang mendukung duet SBY-JK diteruskan. Ya, karena mereka tidak ingin kehilangan jabatan yang sudah dijanjikan. “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?”, mungkin itu yang mereka pikirkan.

Jika Golkar masuk ke Blok S, PKS akan menarik suaranya dari SBY dan keluar dari koalisi kemudian menjadi pihak independen. *walaah* Katanya sie karena tidak sevisi dengan Golkar dan PKS juga tidak ingin jadi sekedar pemain cadangan dalam koalisi Blok S. Tak salah PKS berpendapat begitu, karena jika Golkar masuk, jelas pasangan capres-cawapres yang akan diajukan adalah SBY-JK, bukan SBY-HNW (Hidayat Nur Wahid) seperti harapan awal PKS. Hhm, ada yang memuji sikap PKS ini, dinilainya sebagai partai yang punya sikap.

Pendapat kedua berkata bahwa sebagai partai besar Golkar harus punya sikap (juga), tidak hanya sekedar mendompleng populernya Demokrat. Kata para pendukung Golkar, tidak sebaiknya Golkar mengambil jalan yang populer lagipula Golkar itu sudah cukup membesarkan nama PD. Seakan ingin menguji apa yang bisa dilakukan PD tanpa Golkar. Bisa disimpulkan, tidak perlu mendengarkan kepentingan-kepentingan para calon menteri 09-14, yang penting sekarang adalah mempertahankan harga diri Golkar sebagai partai besar dan partai tertua di kancah politik nasional.

Nah lho nah lhooo! Ck ck ckckc..

Para elit politik kita sedang berebut kursi dan jabatan, sibuk mencari strategi untuk menyelamatkan muka dan mempertahankan harga diri. Kalau semua (or at least sebagian besar) partai sedang bergulat menentukan pasangan capres-cawapres baru dan menyusun koalisi baru, lalu dimana posisi rakyat? Dimanakah terjadi perjuangan atas kepentingan rakyat? Jika suatu partai menang, benarkah itu kemenangan rakyat? Ataukah rakyat hanyalah pion (atau alat) untuk mencapai kemenangan partai?

Hal lain, katanya, dalam politik, tak ada kawan ataupun lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Lalu bagaimana dengan apa yang dilakukan PKS, yang katanya punya sikap itu? Apakah bagi PKS juga sama, bahwa selama kepentingan yang diusung sama maka akan jadi kawan sedangkan jika kepentingan yang diusung berbeda maka akan jadi lawan? Jika kepentingan yang diusung selamanya berbeda, bukannya akan menjadi lawan? Jika kepentingan yang diajukan selamanya sama, bukannya akan menjadi kawan selamanya? Apakah kepentingan akan selalu berubah? Berdasarkan apa sebenarnya perubahan kepentingan itu? *tralalalalaaa.. semakin ga jelas*

Ah, ah, ah. Politik. Rakyat yang seakan diberi kebebasan untuk memilih, ujung-ujungnya hanya menjadi alat politik partai untuk menggolkan kepentingannya. Nasib ya nasib negara demokrasi. Dosenku pernah berkata,

“Proses demokrasi adalah practicing – latihan. Tidak ada yang sekali melakukan demokrasi dan melakukannya dengan benar.”

Lalu akan selama apa negara ini berlatih? Kapan ujiannya?? *ngegaring deh gw*

seharusnya aku belajar pesisir, kok malah sok ngebahas politik..

4 pemikiran pada “Harga Diri & Kepentingan

  1. Hhmm…Tajam juga Mbak pemikiran sampeyan mengenai pandangan perpolitikan..

    Saya sebenarnya diajari juga masalah pandangan politik seperti ini, tapi berhubung ini sudah malam, otak saya pun tidka bisa berfikir secara maksimal..

    Hanya senang membaca artikel di atas saja, yang jelas akhirnya saya sudah bisa tau bagaimana jalan pemikiran seorang Mbak Danar Astuti..

    Salam hangat Bocahbancar…..

    ————————————-

    plok plok plook,
    terima kasih terima kasih
    *sekarang awa yg kehabisan kata*

    Suka

  2. waw, kakak, waw…

    pengamat politik yang oke jeh…

    —————————

    hahaa, asseek,
    he, awakmu kentekan komen ta? :p

    Suka

  3. Pokoknya, aku yakin kalo SBY gabung ama Megawati, SBY ga bakal kepilih lagi…. *ga mungkin terjadi pula*

    Nyatanya, sekarang JK resmi ga duet lagi dengan SBY….
    Udah lah, sama PKS aja, ato PAN. Hatta Rajasa menunggu…. ^^

    ———————–

    Ntar klo SBY beneran jadi sama Hatta Rajasa, si KetUm PAN cemburu tuh, merasa dilangkahi.
    Hhm, rupanya jadi Ketua IA ITB bisa menaikkan pamor kah? 😕

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Abdul Syair Batalkan balasan