Noise In The Dawn

rules of the world (#1)

Few days ago, one rule of the world was finally embedded in my mind. Well, I learned it hard way. Actually the lesson was simple (yet essential) :

People focus on WHO speaks and HOW he/she says it better than WHAT he/she says.

I actually find this rule pretty ridiculous. I mean, come on, how can logical people still think like that! Everyone has his own way to say something, one person says the truth with a nice tone, other says it with a sharp tone. People tend to feel offended in the latter situation. Not only tone they concern about but also who speaks. If someone who succeed advises you how to achieve your dream, you must feel encouraged. Otherwise if someone who fails tells you some tips how to succeed, you must think that the person is only blabbering. You won’t even care the reason why he tells you that although perhaps that person wants to warn you about the upcoming obstacles he once failed and he doesn’t want you to flunk in the same hole. Unfortunately the feeling of being offended & the thought of judging someone like that is already implanted in our society.

People call it; manner. If I don’t follow the manner, people will judge me as ill-mannered and be ashamed of my own family. So I’d better pay attention more on how polite I say something and who I am to say it. Up until yesterday I still stick to my opinion that this rule is foolish, but something changes my mind …

Baca selebihnya »

Strong-willed Song

Smalane suci dalam pikiran
Smalane benar jika berkata
Smalane tepat dalam tindakan
Smalane dapat dipercaya

When I was a freshmen, joining orientation moments called PeNA (Pekan Pengenalan Almamater), every morning & afternoon I marched through the hall way, sang that song over and over. The song echoed in my heart, forced me to ask myself :
Do I have a pure mind (& heart)?
Do I tell the truth?
Do I do the right thing?
Can I be trusted?
Have I met the qualities they mentioned?
Am I good enough to be a smalane?

That idealist song is like a self-reflection, self-appraisal, muhasabah for me. Until today, everytime I sing that song, I will repeat the same question like in those days, “Do I have the qualities & qualifications to be regard as Smalane?”

I love that feeling. ‘Smalane’ always reminds me that I need to be a better person. Salute for the one(s) who wrote the song.

Smalabaya
Smalabaya

Andai Aku Mahasiswi Psikologi..

— Eiits, ini bukan reality show kek di tipi itu lho!

Kehidupan sehari-hari dapat menjadi inspirasi penting bagi kita. Apa yang terjadi di sekitar sebenarnya selalu memberi kita pertanyaan mengapa & bagaimana. Banyak hal yang sebenarnya mesti kita cari jawabnya. Banyak ilmu yang mesti kita gali dari dunia & sekitar kita. Ilmu di dunia ini ga ada batasnya, lluuuaassss banget. Yap, selama kita buka mata, buka hati, buka wawasan.

Tapiii.. apa yang akan aku bahas bukanlah hal serius seperti opening di atas. Apa yang akan aku bahas benar-benar totally unimportant thing. Hal-hal kecil yang aku pertanyakan dalam pikiranku tanpa pernah berusaha menemukan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan sederhana hasil daydreaming.

Apa sajakah 3 pertanyaan itu?

1) Mengapa sopir angkot caheum-ledeng (pp) brani mengemudi begitu kencang & ugal-ugalan??

Serius deh. Dari sekian banyak angkot yang sudah aku naiki di Bandung (huhuhuuu, nasib kagak bisa bawa kendaraan alhasil ngangkot mulu), nie Caheum – Ledeng paling oke kalo kebut-kebutan. Ada lagi sebenarnya angkot yang ga kalah oke, yaitu Dipatiukur – Panghegar.

Angkot dg rute caheum – ph mustofa – gasibu – itb – setiabudi – daarut tauhid – ledeng ini sering aku naiki. Apalagi pas jaman KP di PT Studio Cilaki Empat Lima  dulu. Mau ga mau harus naik nie angkot. Beeuuuhh.. kenceng banget deh klo mengemudi, apalagi di sekitar tikungan babakan siliwangi. Wuuih, kek racing! Klo nyalip, manteb betul.  Setiap hal kek gini terjadi, aku memperhatikan wajah-wajah penumpang di sekitarku yang seketika menegang & mencari-cari pegangan. Ha3. Aduw, bapak sopir ini, sebenarnya ingatkah dia bahwa dia membawa nyawa (atau mungkin dalam pikiran dia, kami bukan nyawa, tapi duit) ?

Tapi tak jarang juga angkot ini terjebak macet, trutama di jalan setiabudi pada jam 5 pm – 7 pm. Maklum, jamnya orang pulang kantor. Di sekitar sana memang banyak kegiatan perkantoran, perdagangan, & juga pendidikan. Karena itu, begitu ada kesempatan ngebut, langsung semangat tuh akang sopirnya!

Nah, angkot ini jumlahnya juga banyak! Jadi persaingan antar angkot dalam memperebutkan penumpang nampaknya memang ketat. *oowh, huh, diperebutkan angkot..*

Jalan di Babakan Siliwangi yang berkelok nampaknya dianggap menantang oleh para sopir angkot itu untuk ditaklukkan dengan kecepatan yang mantab. Apalagi daerah situ tuh rindang. Jika melaju kencang di sekitar situ, dengan jendela terbuka, wuuuiihh, anginnya sejuk banget!

3 hal tersebut akan lebih baik jika ditelusuri dengan sampling yang tepat & analisis yang lebih mendalam.

2). Bagaimana fesbuk bisa begitu mempengaruhi kehidupan orang?

Jaman sekarang, teknologi komputer sudah begitu menjamur. YM sudah seperti sms. Fesbuk sudah seperti bertemu langsung dengan teman. Daann, yang paling penting, kelihatannya fesbuk sudah menjadi representasi dunia nyata. Bayangkan, gosip (obrolan) di dunia nyata bisa berasal dari fesbuk.

3) Bagaimana kaitan kebiasaan menulis gede-kecil- capslock-ga-jelas dengan kepribadian?

Tulisan kita (secara substansial, cara penyampaian, dan gaya tulisan) adalah cermin kepribadian kita.  Daaann duuww, ini sudah kesekian kalinya aku mendapati kenyataan bahwa orang-orang yang menulis dengan gaya gede-kecil- capslock-ga-jelas itu adalah orang-orang childish bin (sometimes) egois. Entah ini kebetulan atau memang kebenaran. Simpulan generalisasi ini harus dibuktikan dengan penelitian yang lebih dalam sie.

— semua tulisan berdasarkan pengalaman pribadi & hasil renungan penulis *halahh…*. No offense.

Everyone’s Life, Everyone’s Story

Uhuuy, I’m excited to write. Hahahaa. I got inspiration from my yesterday’s experience. Well, it’s just a small piece of my life but -I don’t know- it means so much. The thought strucked me when we had dinner (fasting break) in KFC. Ow, there is something else inspires me; Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. Wuuiih, it’s a great story! Really a refreshment among the stream of pop literatures in Indonesia. Ok, one by one, please..

KFC thing.
Yesterday there was someone (a big boy) celebrated his birthday in KFC, with Chaki Package + Batman. Actually his friends (and big help of his girlfriend) arranged that. Believe it or not, he is 23! Just one year older than me! Everyone there looked happy. Ahahahaaa, it was sweet and funny. Then I swapped my sight to his friends.. Looked to everyone else in KFC, the employers, then I suddenly thought,

“Yes, everyone has his/her own strory of life.. joy, sadness, pain, happiness. Aah, what a sweet. Allah Almight.”

When I put that in my mind, I do cherish people around me. I don’t judge them, I just appreciate each of them as someone who has her/his own story of life, who try to find out & pursue his/her fate. Hhm.. I love that feeling. Somehow it makes me feel confident. Hehee *does those things relate to each other??*

Bumi Manusia.
I haven’t finished reading it, but I can feel the greatness of its story. I love it. This book is written through the eyes of main character. The setting is the era when Netherland ruled Indonesia. The main character named Minke, inlander, an HBS student in Surabaya *ah, my hometown!*, royal blood is inside him but he refuse wealth. He is kinda a journalist and a writer. He studies and he also writes about people and his thought. He publishes his writings in newspaper. A writer with modern thoughts in mind!His life is dramatic, but his ability and his brain is pretty flawless. This story really inspires me to become a journalist and a writer like minke.

Hahahaa, after those experiences, I think back my dreams. Well few days ago I took a personality quiz suggested by agunk (mypersonality.info), and my result is The Confidant, Counselor, or Empath ~rare personality. Few of its career matches are Doctor, Human Resources, Social worker, Teacher/Professor, and Writer. Weheee.. Good careers. I like to listen to other people’s stories, feelings, and thoughts. I love to write those down, draw conclusions, and take wisdoms from those.

*Hhm, I hope I’m not overestimate myself..*

Medan Perang Kamu, Kalian, Aku, & Kita

— our life touch each other in a very unique way. Well, life always has a way to teach us!

Isu Palestina vs Israel akhir-akhir ini sedang panas (bukan sekedar hangat lagi!). Banyak berita bertebaran bahwa kita harus memboikot produk-produk zionisme seperti Nestle, Unilever, Starbucks, Facebook, Google dsb *aww! I don’t think I can*. Di depan masjid kampusku pun tak tanggung-tanggung baligho gede (sebenernya yg namanya baligho pasti gede sie..) berisikan daftar produk yang harus diboikot dipasang. Tiap minggu ada organisasi islam yang rajin mengangkat isu palestina & berdemo di Gedung Sate. Kajian tiba-tiba menjamur. Banyak email masuk menceritakan kekejaman bin kebiadaban Israel, betapa menderitanya sodara-sodara kita di sana, memberi daftar produk. Tak sedikit  pula IM yang menyatakan kita harus membaca ayat-ayat tertentu untuk membantu mereka di sana, mengecam kita jika kita tidak berbuat apapun demi mereka. SMS tak mau kalah ikut menyumbang peran.

semoga ga lebay
semoga ga lebay

Well, semua orang punya pendapat masing-masing. Begitu pula aku, dan aku pikir boikot bukanlah hal utama dalam menanggapi apa yang terjadi di Palestina.

Baca selebihnya »

Urgent!

Oh my,,

I’ve gotta start writing again..

Gotta start immediately..before I become a….plagiator

*that’s not the right word, but I can’t find any other in my mind*

Soon, I’ll be back!

Re: Harga dari Sebuah Kepercayaan

Ha3, berasa lagi nulis di milis aja.

Seorang temanku menulis begini di blog-nya.

Yah, ini masalah wajar suatu organisasi. Kadang sebenarnya terasa agak birokratis..

Wel, saat kita memimpin biasanya akan timbul ego dalam diri bahwa semua keputusan harus atas sepengetahuanku! bahwa semua orang harus menuruti perintahku! dsb.. Itu wajar, tapi perasaan seperti itu harus ditekan dan kalau bisa dibuang jauh-jauh.

Lalu temanku yang lain berkata,

Salah satu ciri pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak membuat anak buahnya tergantung pada dirinya.

Wew!

betthhuL sekali. Dulu aku pernah membaca, bahwa memimpin suatu organisasi itu bukan sekedar membuat orang lain tunduk di bawah perintah kita melainkan membantu mereka memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Ini yang namanya memberdayakan anggota. (jadi bukan sekedar memforsir anggota untuk bekerja sesuai kehendak kita) *aku jadi teringat dengan kuliah Pengembangan Komunitas..mirip.*

Semoga dengan ini, kita semua semakin banyak belajar..

Kepribadian & Jilbab (2) -pelajaran dari kampus & ciwalk-

Bandung, 06.08.08

Hari ini aku sempat menelusuri ruang-ruang Cihampelas Walk. Cari kado, niatnya. Selama berjalan, mataku terpaku pada segerombolan anak muda (ha3, brasa udh tua aj gw!). Ada di antara mereka yang berjilbab. Dengan santainya si cew berjilbab itu merangkul pinggang si cow dan dibalas pula oleh si cow. Wew! Yah, sebenarnya ini pemandangan biasa, tapi bukan berarti kita menyepakatinya. Mengutip kalimat temanku,

Saat melihat sesuatu yang buruk namun terlanjur menjadi hal biasa, at least, ingkarilah walau sekedar dalam hati.

Tiba-tiba aku teringat, tentang bokep anak itebee itu. Gosipnya (bukan maksud awa untuk mengajak bergosip.. ini sebagai pelajaran), pemeran dalam “film” itu adalah anak elektro 2006. Si cew-nya berjilbab. Salah satu temanku, Si A, ada yang memaki-maki si cew begitu kencang dan dahsyat (lewat milis) sampai-sampai kita semua merasa risih dengan komennya. Pada intinya Si A berkata (dengan bahasa yang sudah aku sortir), “Gila, lo jilbaban tapi  tingkah lo kayak gitu! Lepas aja deh jilbab lo! Gw ga suka lo menghancurkan nama baek cew-cew berjilbab laennya!”.

Lalu salah seorang temanku, Si O, seorang cew yang belum berjilbab, menjawab dengan polosnya (sebenarnya nie anak kgak polos-polos banget siee..),

Tapi.. jilbab dan kepribadian itu kan 2 hal yang berbeda. Dia pake jilbab ya berarti dia dapet pahala tapi kelakuan dia belum baek ya berarti dia dapet dosa. Emang ga bisa dipukul rata bahwa kalau berjilbab, kelakuannya pasti baek. Itu sie tergantung orangnya.

Hhmmm……… kalimat itu dia dapatkan dari seorang teteh selama mentoring agama (wew! AAEI rupanya berguna! good job, guys!).

Memang benar, jilbab dan kelakuan baik adalah 2 hal berbeda. Berjilbab bukan merupakan jaminan bahwa cew tersebut berkelakuan baik. Tidak berjilbab juga bukan jaminan bahwa cew tersebut berkelakuan tidak baik.

Hanya saja, alangkah baiknya jika kita menjaga jilbab kita dan mengizinkan jilbab kita menjaga kita. Kata seorang temanku di masa SMA,

Berjilbab adalah ibadah yang akan dilakukan perempuan secara konsisten. Kalau sholat, ada kemungkinan bolongnya. Sedangkan kalau udah berjilbab Insya Allah, perempuan ga bakal melepas-pakai jilbabnya.

Karena itu, jangan tanggalkan nie jilbab. Ini kewajiban yang akan menjadi pahala kita. Alangkah baiknya jika kita menyempurnakan jilbab ini dengan kelakuan baik dan prestasi yang baik pula.

Wah! Yahui banget tuh! Ya, ga, pren ? 😀

di-publish di blog setelah mendapat inspirasi dari Forum Silaturahim Annisaa

Kepribadian & Jilbab (1)

Bandung, 31.07.08

Sepulang dari Jakarta bersama orang-orang kantor tempatku KP, aku berkesempatan mendapatkan “ceramah” dari seorang teman kantor, PL’97. La la laaa… kemana-mana…. Tiba-tiba ada kalimat yang begitu mengena,

Orang seringkali berpikir, saya belum berani berjilbab karena kelakuan saya belum baik. Padahal itu pemikiran yang salah! Jilbab adalah satu hal dan kelakuan baik adalah hal lain.

Waahh..benar sekali, Pak! Saya sendiri juga sempat menganut pemikiran yang salah kaprah itu. Dulu aku berani berpakaian layaknya akhwat. “Takut menodai citra akhwat yang baik dengan tingkahku yang masih buruk ini,” begitu pikirku. Yah, maklum, aku masih suka ketawa cekakan, ga jaga pandangan ma cow, IP pas-pasan, ga berprestasi, dsb. Lama-kelamaan aku terpikir lagi,

Hei, seharusnya dengan aku menggunakan jilbab secara rapi, aku malah bisa semakin menjaga diri, menyadari bahwa diri ini adalah muslimah lalu bersikap layaknya muslimah.

Hmm…

So, bagi teman”yang belum berjilbab karena alasan di atas, hapus pikiran yang salah kaprah itu. Seiring waktu dan bertambahnya ilmu, kita akan menyadari banyak hal dan belajar memperbaiki diri. Karena hidup itu adalah proses untuk menjadi baik dan semakin baik. Yuk, berjilbab! (^^)/